CoA - Distraksi digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sering kali tanpa kita sadari dampaknya terhadap kemampuan mengingat. Di tengah kebiasaan memeriksa ponsel, membaca sambil membuka notifikasi, atau bekerja dengan banyak tab sekaligus, otak jarang mendapatkan kesempatan untuk benar-benar fokus. Padahal, daya ingat terbentuk melalui proses yang membutuhkan perhatian utuh. Ketika kita menerima informasi dalam keadaan terpecah, otak hanya menangkapnya secara dangkal. Informasi tersebut terasa familiar, tetapi tidak cukup kuat untuk disimpan dalam memori jangka panjang.
Banyak orang mengira mereka mampu melakukan multitasking, misalnya bekerja sambil membalas pesan atau menonton video singkat. Kenyataannya, otak tidak benar-benar melakukan banyak hal sekaligus, melainkan berpindah sangat cepat dari satu tugas ke tugas lain. Setiap perpindahan ini menguras energi mental dan memaksa otak untuk “memulai ulang” proses memahami. Akibatnya, konsentrasi menjadi rapuh dan jejak ingatan yang terbentuk tidak mendalam. Kita mungkin merasa sibuk, tetapi sebenarnya tidak menyerap banyak hal.
Notifikasi juga memainkan peran besar dalam melemahkan memori. Bunyi singkat atau layar yang menyala cukup untuk memancing rasa ingin tahu dan memecah perhatian, bahkan jika kita tidak langsung membukanya. Gangguan kecil ini menginterupsi proses otak saat sedang menyusun informasi baru. Ketika perhatian terputus, otak kehilangan kesinambungan, sehingga informasi yang sedang dipelajari menjadi sulit diingat kembali.
Selain itu, teknologi membuat kita semakin jarang melatih kemampuan mengingat. Nomor telepon, jadwal, alamat, hingga daftar tugas kini disimpan di perangkat. Tanpa disadari, kita menyerahkan sebagian fungsi memori kepada teknologi. Otak yang jarang digunakan untuk mengingat akan menyesuaikan diri dengan kebiasaan tersebut, menjadi kurang terlatih dan lebih mudah lupa. Seperti otot yang jarang digerakkan, kemampuan mengingat pun dapat melemah jika tidak digunakan.
Media sosial menambah tantangan lain melalui rangsangan cepat yang memberi kepuasan instan. Setiap guliran layar menghadirkan informasi baru dalam hitungan detik, memicu pelepasan dopamin yang membuat otak terbiasa dengan stimulasi singkat dan terus berubah. Dalam kondisi seperti ini, aktivitas yang membutuhkan perhatian mendalam seperti membaca panjang atau memahami konsep kompleks terasa lebih berat. Otak menjadi kurang sabar untuk berada dalam fokus yang lama, padahal justru di situlah memori kuat terbentuk.
Pada akhirnya, distraksi digital bukan hanya soal berkurangnya konsentrasi sesaat, tetapi juga perubahan cara otak bekerja dalam menyimpan pengalaman dan pengetahuan. Ketika kita memberi ruang untuk fokus yang lebih utuh dan mengurangi gangguan, otak kembali mendapatkan kesempatan untuk membangun ingatan secara lebih kuat. Dengan kata lain, menjaga perhatian di era digital bukan sekadar soal produktivitas, melainkan juga investasi bagi ketajaman memori kita sendiri.
