Bagaimana Emosi Memengaruhi Memori?


CoA - Pernah merasa bisa melupakan apa yang dimakan kemarin, tetapi masih mengingat dengan sangat jelas momen memalukan di sekolah bertahun-tahun lalu? Atau masih bisa membayangkan suasana hari pertama bekerja, lengkap dengan rasa gugup dan bersemangat yang muncul saat itu? Fenomena ini bukan kebetulan. Emosi memang memiliki hubungan yang sangat kuat dengan cara otak menyimpan dan mengingat informasi.

Secara ilmiah, memori tidak hanya disimpan oleh bagian otak yang “mencatat data” seperti sebuah hard drive. Ada bagian lain yang ikut berperan, yaitu amigdala, pusat pengolahan emosi dalam otak. Ketika kita mengalami sesuatu yang memicu perasaan kuat, baik itu bahagia, takut, sedih, atau terkejut, amigdala akan mengirim sinyal bahwa pengalaman tersebut penting. Otak kemudian memperkuat proses penyimpanan memori melalui hippocampus, sehingga kejadian itu lebih mudah diingat di masa depan.

Itulah sebabnya pengalaman yang emosional terasa lebih “hidup” dalam ingatan. Otak secara alami menganggap peristiwa yang menimbulkan emosi sebagai sesuatu yang relevan bagi kelangsungan hidup. Bagaimanapun, mengingat kejadian berbahaya membantu manusia menghindari risiko yang sama, sementara mengingat pengalaman menyenangkan membantu kita mengulang perilaku yang bermanfaat.

Menariknya, emosi tidak selalu membuat ingatan menjadi akurat, tetapi justru membuatnya terasa lebih kuat. Saat seseorang mengingat suatu kejadian yang penuh emosi, yang diingat sering kali adalah sensasinya, suasana, rasa, atau maknanya, bukan detail faktualnya. Karena itu, memori emosional kadang terasa sangat nyata, meskipun beberapa bagian sebenarnya telah “direkonstruksi” oleh otak seiring waktu.

Emosi juga berperan dalam proses belajar. Informasi yang dipelajari dalam kondisi emosional yang positif, seperti rasa tertarik atau antusias, cenderung lebih mudah diserap. Sebaliknya, stres berlebihan justru bisa menghambat kemampuan mengingat karena tubuh memproduksi hormon kortisol dalam jumlah tinggi, yang dapat mengganggu kerja hippocampus jika terjadi terus-menerus.

Hal ini menjelaskan mengapa suasana belajar atau bekerja sangat memengaruhi daya ingat. Lingkungan yang nyaman, rasa ingin tahu, dan keterlibatan emosional ringan membantu otak “menandai” informasi sebagai sesuatu yang layak disimpan. Bukan berarti belajar harus selalu serius, justru keterlibatan perasaan sering kali membuat proses memahami menjadi lebih efektif.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya bisa memanfaatkan cara kerja ini. Mengaitkan informasi dengan pengalaman pribadi, cerita, atau makna tertentu dapat membantu memperkuat memori. Bahkan hal sederhana seperti membayangkan situasi nyata saat mempelajari sesuatu sudah cukup untuk memberi sentuhan emosional yang membuat otak lebih mudah mengingatnya.

Pada akhirnya, memori manusia bukan sekadar kumpulan fakta, melainkan juga rekaman perasaan. Kita tidak hanya mengingat apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana rasanya saat itu. Dan justru karena emosi itulah, ingatan menjadi bagian penting dari identitas kita sebagai manusia.

Post a Comment

Previous Post Next Post