CoA - Banyak orang merasa sulit berkonsentrasi sejak ponsel menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Baru saja mulai bekerja atau belajar, tiba2 tangan sudah meraih ponsel tanpa benar2 sadar kenapa. Kadang tidak ada notifikasi, tidak ada pesan penting, tetapi dorongan untuk mengecek tetap muncul. Hal ini bukan semata-mata karena kurang disiplin. Otak manusia memang sangat mudah tertarik pada sesuatu yang menjanjikan “hadiah kecil”, dan ponsel adalah salah satu sumber hadiah paling konsisten di era modern.
Setiap kali kita membuka ponsel, selalu ada kemungkinan menemukan sesuatu yang menyenangkan, baik itu pesan baru, berita menarik, video singkat, atau sekadar hal yang tidak terduga. Ketidakpastian inilah yang justru membuat otak semakin tertarik. Otak melepaskan dopamin, zat kimia yang berkaitan dengan rasa penasaran dan antisipasi, bukan hanya kesenangan. Lama-kelamaan, otak belajar mengaitkan rasa bosan atau jeda kecil dengan kebiasaan mengambil ponsel. Proses ini terjadi otomatis, tanpa perlu keputusan sadar. Kita merasa seperti memilih, padahal sebenarnya sedang mengikuti pola yang sudah tertanam.
Masalahnya, setiap gangguan kecil memaksa otak keluar dari mode fokus. Fokus bukan sakelar yang bisa langsung dimatikan dan dinyalakan kembali. Ia lebih seperti mesin yang perlu waktu untuk mencapai kecepatan optimal. Ketika perhatian terputus, sebagian pikiran masih tertinggal pada hal sebelumnya. Akibatnya, kita membutuhkan beberapa menit hanya untuk kembali ke kondisi mental yang sama. Inilah sebabnya mengapa mengecek ponsel sebentar saja bisa membuat pekerjaan terasa jauh lebih berat dan melelahkan.
Melatih otak agar tidak mudah terdistraksi bukan berarti melarang diri menggunakan ponsel sama sekali, melainkan mengubah hubungan kita dengannya. Lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk perilaku. Saat ponsel berada di luar jangkauan, dorongan untuk mengambilnya berkurang drastis. Ketika layar dibuat lebih sederhana atau notifikasi dibatasi, rangsangan visual yang biasanya memancing perhatian menjadi jauh lebih lemah. Otak tidak lagi terus-menerus “dipanggil” oleh perangkat di samping kita.
Di sisi lain, penting juga memberi jeda sebelum menuruti dorongan tersebut. Saat muncul keinginan untuk membuka ponsel, berhenti sejenak dan menyadari apa yang sedang terjadi sudah cukup untuk mengaktifkan bagian otak yang bertanggung jawab atas pengendalian diri. Kebiasaan kecil seperti ini, jika dilakukan berulang, membantu memutus reaksi otomatis yang sebelumnya terasa tidak terkendali. Fokus pun bisa dilatih kembali secara bertahap, dimulai dari durasi pendek yang realistis, lalu diperpanjang seiring waktu, sebagaimana otot yang menguat melalui latihan konsisten.
Pada akhirnya, kesulitan berkonsentrasi di tengah distraksi digital bukanlah tanda bahwa kita lemah atau tidak produktif. Otak hanya beradaptasi dengan lingkungan yang sangat kaya rangsangan. Ketika lingkungan itu kita atur ulang dengan sengaja, otak juga akan belajar ulang. Fokus bukan sesuatu yang hilang karena teknologi, melainkan kemampuan yang perlu dibangun kembali secara perlahan, sadar, dan konsisten.
