CoA - Di era yang penuh notifikasi dan informasi seperti sekarang, berkonsentrasi menjadi sesuatu yang terasa semakin sulit. Banyak orang merasa sudah duduk lama di depan pekerjaan, tetapi hasilnya tidak sebanding dengan waktu yang dihabiskan. Pikiran mudah sekali berpindah, dari tugas utama ke hal-hal kecil seperti mengecek ponsel, membuka tab baru, atau sekadar melamun tanpa sadar. Kondisi ini bukan semata-mata karena kurang disiplin, melainkan karena otak manusia memang tidak dirancang untuk menghadapi banjir distraksi yang terus-menerus.
Secara ilmiah, "perhatian bekerja" itu seperti layaknya otot di badan kita. Ia bisa lelah jika digunakan tanpa jeda, tetapi juga bisa dilatih agar menjadi lebih kuat. Setiap kali kita berpindah fokus, otak membutuhkan waktu untuk kembali ke kedalaman konsentrasi semula. Proses ini disebut attention residue, yaitu sisa perhatian yang tertinggal pada aktivitas sebelumnya. Akibatnya, semakin sering kita berpindah tugas, semakin dangkal kualitas fokus kita.
Salah satu teknik paling efektif untuk meningkatkan konsentrasi justru bukan bekerja lebih lama, melainkan bekerja dalam blok waktu yang jelas. Ketika seseorang menetapkan periode fokus, misalnya 25 sampai 45 menit tanpa gangguan, otak akan memahami bahwa ia tidak perlu terus-menerus bersiap menghadapi perubahan. Dalam kondisi ini, otak mulai masuk ke keadaan yang disebut deep work, yaitu fase ketika kemampuan berpikir menjadi lebih tajam, kreatif, dan efisien.
Lingkungan juga memegang peran penting dalam menjaga perhatian. Banyak orang mencoba melatih fokus dari dalam diri, tetapi lupa bahwa otak sangat responsif terhadap rangsangan luar. Meletakkan ponsel di luar jangkauan, menutup notifikasi, atau bekerja di tempat yang relatif sama setiap hari dapat menjadi sinyal konsisten bagi otak bahwa area tersebut adalah “ruang untuk fokus”. Kebiasaan kecil ini lama-kelamaan membentuk asosiasi otomatis, sehingga kita lebih mudah masuk ke mode kerja tanpa perlu memaksakan diri.
Selain itu, jeda yang terencana justru membantu menjaga konsentrasi lebih lama. Otak tidak didesain untuk fokus tanpa henti. Istirahat singkat, seperti berjalan beberapa menit, meregangkan tubuh, atau melihat ke luar jendela, membantu sistem saraf kembali segar. Setelah jeda, kemampuan menyerap informasi biasanya meningkat dibandingkan jika kita memaksakan diri terus bekerja.
Hal lain yang sering diabaikan adalah kejelasan tujuan. Fokus menjadi lebih mudah ketika otak tahu apa yang harus diselesaikan. Sebaliknya, tugas yang terlalu besar atau samar membuat pikiran mencari pelarian. Memecah pekerjaan menjadi langkah kecil memberi otak rasa kemajuan yang nyata, dan rasa kemajuan ini memicu dopamin, zat kimia yang memperkuat motivasi dan perhatian.
Pada akhirnya, konsentrasi bukanlah bakat bawaan yang hanya dimiliki sebagian orang. Ia adalah keterampilan yang dibentuk oleh kebiasaan, lingkungan, dan cara kita mengelola energi mental. Dengan mengurangi distraksi, bekerja dalam blok waktu, serta memberi jeda yang cukup, kita sebenarnya sedang melatih otak untuk kembali melakukan apa yang secara alami mampu ia lakukan: fokus pada satu hal secara mendalam.
