CoA - Dalam keseharian, kita sering bergerak begitu cepat. Bangun, bekerja, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, hampir tanpa jeda untuk benar-benar memperhatikan apa yang sedang kita rasakan. Banyak hal dilakukan secara otomatis, seperti tubuh berjalan sendiri tanpa sempat diajak berdialog.
Puasa menghadirkan jeda itu.
Ketika kita menahan makan dan minum, ritme tubuh berubah. Kita menjadi lebih peka terhadap rasa lapar, haus, lelah, bahkan terhadap perubahan emosi yang biasanya terlewat. Hal-hal yang sebelumnya terasa biasa saja kini menjadi lebih terasa. Dari sinilah kesadaran terhadap diri mulai tumbuh.
Puasa membuat kita tidak bisa lagi hidup sepenuhnya dalam mode 'otomatis'. Kita dipaksa untuk memperhatikan:
Apakah ini benar-benar kebutuhan, atau hanya keinginan?
Apakah kita marah karena alasan yang penting, atau hanya karena tidak nyaman?
Apakah kita bertindak dengan sadar, atau sekadar bereaksi?
Dalam kondisi lapar, kita belajar mengenali diri sendiri dengan lebih jujur. Kita melihat bagaimana kita merespons ketidaknyamanan. Kita menyadari kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini tersembunyi, tergesa-gesa, mudah terpancing, atau selalu ingin segera merasa nyaman.
Namun justru di situlah latihan sebenarnya.
Puasa bukan hanya melatih menahan, tetapi juga mengajak kita memahami. Kita belajar bahwa diri ini tidak harus selalu mengikuti setiap dorongan. Ada ruang untuk memilih. Ada kesempatan untuk memperlambat, bernapas, lalu bertindak dengan lebih sadar.
Kesadaran seperti ini jarang muncul ketika hidup terasa serba cukup dan serba cepat. Puasa menghadirkan kesederhanaan yang membuka ruang refleksi. Saat tubuh dibatasi, hati justru diberi kesempatan untuk lebih mengenal dirinya sendiri.
Dan mungkin, itulah salah satu makna terdalam dari Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menemukan kembali hubungan yang lebih tenang dan lebih jujur dengan diri sendiri.
