CoA - Ada anggapan bahwa lapar adalah tanda kelemahan. Saat perut kosong, tubuh terasa lebih pelan, tenaga seakan berkurang, dan pikiran kadang tidak sefokus biasanya. Namun dalam Puasa, lapar justru memiliki makna yang berbeda. Ia bukan sekadar kondisi fisik, melainkan proses yang diam-diam menguatkan sesuatu yang lebih dalam, yaitu hati.
Ketika kita tidak segera memenuhi keinginan untuk makan atau minum, kita sedang belajar bahwa tidak semua dorongan harus langsung diikuti. Ada jeda yang diciptakan. Di dalam jeda itulah muncul kesadaran bahwa kita mampu mengendalikan diri, bukan dikendalikan oleh kebiasaan.
Tubuh mungkin merasa lelah, tetapi hati sedang dilatih untuk lebih tangguh. Kita belajar sabar, bukan karena terpaksa, melainkan karena memilih untuk bertahan. Kita belajar cukup, bukan karena tidak ada, melainkan karena menyadari bahwa yang sedikit pun bisa bernilai.
Lapar saat Puasa juga mengubah cara kita memandang hal-hal sederhana. Seteguk air menjadi terasa sangat berharga. Sepiring makanan terasa cukup, tanpa perlu berlebihan. Dari situ, muncul rasa syukur yang mungkin jarang hadir ketika semua selalu tersedia.
Puasa mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu terlihat dalam aktivitas yang besar. Kadang, kekuatan justru hadir dalam kemampuan menahan, dalam kesediaan untuk tidak segera memenuhi keinginan, dan dalam ketenangan menjalani hari dengan ritme yang lebih lambat.
Lapar bukan melemahkan. Ia membersihkan. Ia menata ulang. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak hanya hidup dari apa yang dikonsumsi tubuh, tetapi juga dari apa yang dilatih di dalam hati.
Dan ketika waktu berbuka tiba, yang terasa bukan hanya kenyang, melainkan juga kelegaan, kesadaran, dan rasa cukup yang lebih dalam daripada sekadar makanan.
