CoA - Ada satu perasaan yang sering diam-diam kita simpan, yaitu merasa harus selalu sibuk agar hidup terasa berarti. Kalau tidak lelah, rasanya seperti kurang produktif. Kalau tidak terus bergerak, takut dianggap malas. Bahkan kadang kita membawa perasaan itu sampai ke ibadah. Seolah-olah semakin capek, semakin baik. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan hidup yang menguras habis diri kita. Islam justru datang sebagai penyeimbang.
Kita diperintahkan bekerja, tapi tidak sampai lupa diri. Kita dianjurkan beribadah, tapi tidak sampai merusak kesehatan. Kita diajarkan berusaha, tapi juga diajarkan berhenti untuk bernapas. Dalam Islam, hidup bukan lomba maraton tanpa garis istirahat. Ia lebih seperti perjalanan jauh yang punya ritme, berjalan, berhenti, lalu melanjutkan lagi.
Lihat bagaimana waktu-waktu ibadah disusun. Ada jeda di antara satu waktu dan waktu lainnya. Ada siang untuk beraktivitas. Ada malam untuk menenangkan diri. Ada hari untuk mencari nafkah. Ada juga saat untuk berhenti dan mengingat makna hidup. Semua itu seperti pesan halus bahwa manusia tidak diciptakan untuk terus berlari.
Kelelahan yang kita rasakan hari ini sering bukan karena terlalu banyak yang harus dilakukan, tetapi karena kita lupa memberi ruang untuk berhenti. Kita ingin semuanya selesai sekaligus. Ingin jadi lebih baik secepat mungkin. Ingin sukses, ingin tenang, ingin dekat dengan Tuhan, semua dalam satu waktu. Padahal perubahan selalu berjalan perlahan, sedikit, tapi terus; ringan, tapi konsisten.
Istirahat bukan berarti malas. Istirahat adalah bagian dari menjaga amanah, yaitu diri kita sendiri. Tubuh yang terlalu lelah sulit khusyuk. Pikiran yang penuh sulit bersyukur. Hati yang dipaksa terus bergerak kadang lupa menikmati. Karena itu, berhenti sejenak juga bisa menjadi bentuk ketaatan.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Beribadahlah dengan tulus. Lalu istirahatlah tanpa rasa bersalah. Sebab Islam tidak meminta kita menjadi manusia yang habis terbakar, melainkan manusia yang terus menyala pelan, stabil, dan bertahan lama. Dan mungkin, justru dalam jeda itulah kita belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa keras kita memaksa, tetapi seberapa seimbang kita menjalaninya.
