CoA - Setiap tahun, kita berkumpul dengan penuh suka cita dalam peringatan Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj. Masjid dihias, panggung ditata, lantunan Sholawat menggema, dan spanduk-spanduk besar dipasang dengan tulisan indah: “Maulid Nabi Muhammad SAW”, “Cinta Rasul”, dan berbagai ungkapan kemuliaan lainnya. Hati kita terasa hangat. Kita merasa sedang menunjukkan cinta kepada Rasulullah ï·º.
Namun, ada satu pemandangan yang sering luput dari perhatian kita, pemandangan yang justru bertolak belakang dengan tujuan peringatan itu sendiri.
Setelah acara selesai, spanduk-spanduk yang tadi kita pasang dengan penuh hormat mulai dilepas. Sebagiannya dilipat seadanya. Ada yang diseret. Ada yang ditaruh di lantai. Bahkan tidak jarang, spanduk bertuliskan nama Nabi Muhammad ï·º menjadi alas duduk, terinjak kaki, atau dibiarkan menumpuk bersama barang-barang lain tanpa penghormatan.
Tanpa sadar, kita sedang mengubah sesuatu yang diniatkan sebagai pemuliaan menjadi perlakuan yang merendahkan.
Inilah ironi yang sering terjadi. Kita begitu bersemangat merayakan, tetapi kurang menghadirkan adab. Padahal, dalam Islam, adab adalah cermin dari keimanan. Cinta kepada Rasulullah ï·º bukan hanya diukur dari seberapa meriah acara yang kita buat, tetapi dari bagaimana kita menjaga kehormatan Beliau dalam setiap keadaan, bahkan pada benda yang memuat nama Beliau.
Para Ulama sejak dahulu mengajarkan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan nama ALLAH dan Rasul-Nya harus diperlakukan dengan penuh penghormatan. Bukan karena bendanya yang mulia, tetapi karena makna yang dikandungnya. Tulisan itu bukan sekadar tinta di atas kain. Ia membawa nama Manusia paling agung yang pernah berjalan di muka bumi.
Rasulullah ï·º tidak pernah meminta diagungkan dengan dekorasi atau perayaan besar. Beliau justru mengajarkan kesederhanaan, kelembutan, dan penghormatan yang lahir dari hati. Maka, ketika kita membuat spanduk untuk syiar, seharusnya kita juga menyiapkan cara memperlakukannya dengan layak setelah selesai digunakan.
Memuliakan Nabi tidak berhenti saat mikrofon dimatikan.
Memuliakan Nabi tidak selesai ketika jamaah pulang.
Memuliakan Nabi justru terlihat pada hal-hal kecil yang sering kita abaikan.
Bagaimana kita menyimpan?
Bagaimana kita memperlakukan?
Bagaimana kita menjaga adab?
Jika spanduk itu sudah tidak digunakan, simpanlah dengan baik. Jika ingin dibuang, lakukan dengan cara yang pantas, tidak dicampur dengan benda kotor atau diperlakukan sembarangan. Itu bukan soal kainnya, tetapi soal rasa hormat kita.
Peringatan Maulid dan Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi momentum memperbaiki hubungan kita dengan Rasulullah ï·º, bukan hanya melalui Sholawat yang dilantunkan, tetapi juga melalui adab yang diwujudkan.
Karena sejatinya, cinta tidak hanya dirayakan. Cinta dijaga.
Dan memuliakan Rasulullah ï·º bukan hanya di panggung peringatan, melainkan dalam sikap kita setelah semuanya usai.
