CoA - Sering kali kita membayangkan ibadah hanya terjadi di waktu-waktu tertentu, seperti saat Sholat, membaca al-Qur’an, atau ketika berada di Masjid. Selebihnya, kita merasa sedang menjalani hal yang 'biasa saja', bekerja, makan, berjalan, berbicara, atau beristirahat.
Padahal dalam Islam, yang membuat suatu aktivitas bernilai bukan hanya bentuknya, tetapi niat di dalamnya.
Ada banyak hal yang secara lahir terlihat sederhana, bahkan rutin dan berulang. Bangun pagi untuk bekerja, menyiapkan kebutuhan keluarga, belajar, membantu orang lain, atau sekadar menjaga kesehatan. Semua itu sering kita anggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang memiliki nilai ibadah.
Namun ketika niat diluruskan, aktivitas yang sama bisa berubah makna.
Bekerja bukan lagi sekadar mencari penghasilan, tetapi menjadi usaha menunaikan tanggung jawab dan menjaga diri dari meminta-minta. Makan bukan hanya menghilangkan lapar, tetapi agar tubuh punya tenaga untuk berbuat baik. Istirahat bukan kemalasan, melainkan cara menjaga amanah tubuh agar tetap kuat menjalankan kewajiban.
Tidak ada yang berubah dari kegiatannya, yang berubah hanyalah niatnya.
Islam mengajarkan bahwa ALLAH melihat apa yang tersembunyi di hati, sesuatu yang tidak terlihat oleh siapa pun. Karena itu, amal tidak selalu harus besar agar bernilai. Justru sering kali, amal yang paling dekat dengan kita adalah yang paling mudah untuk diniatkan.
Kita tidak harus menunggu waktu luang untuk beribadah. Kita hanya perlu menghadirkan kesadaran di tengah kesibukan.
Ketika melangkah keluar rumah dengan niat mencari rezeki yang halal, setiap langkah bisa bernilai. Ketika tersenyum kepada orang lain karena ingin menebar kebaikan, itu pun tercatat sebagai amal. Bahkan hal-hal kecil seperti menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan, atau menahan diri dari berkata kasar, bisa menjadi bagian dari ibadah.
Niat menjadikan hidup terasa lebih bermakna, karena tidak ada lagi waktu yang benar-benar kosong dari kebaikan.
Di situlah keindahan ajaran Islam. Ia tidak memisahkan antara kehidupan dan ibadah. Ia justru menyatukan keduanya, sehingga keseharian kita sendiri bisa menjadi jalan mendekat kepada ALLAH.
Maka yang kita butuhkan bukan selalu menambah aktivitas baru, tetapi memperbaiki tujuan dari aktivitas yang sudah ada.
Karena terkadang, perubahan terbesar dalam hidup tidak datang dari hal yang besar, melainkan dari niat kecil yang diam-diam mengubah semuanya.
