Kita Bangun Tidur Langsung Lari, Bukan Mulai


CoA - Pagi seharusnya menjadi awal. Tapi bagi banyak orang sekarang, pagi terasa seperti garis tengah lomba. Belum benar-benar sadar, tangan sudah meraih ponsel, notifikasi dibuka, pesan dibalas, jadwal dicek. Kepala langsung penuh, bahkan sebelum kaki menyentuh lantai. Kita belum mulai hari, tapi sudah merasa tertinggal. Seolah-olah ada sesuatu yang mengejar, padahal tidak ada yang benar-benar mengejar.

Dulu, pagi punya jeda, ada waktu untuk duduk sebentar, ada ruang untuk merasakan udara, untuk benar-benar bangun. Hari dimulai pelan, seperti menyalakan mesin yang perlu dipanaskan. 

Sekarang, kita menyalakan diri seperti menekan tombol “ON”, mendadak langsung penuh, langsung cepat, langsung sibuk. Tidak heran kalau baru jam sembilan pagi saja sudah terasa lelah.

Masalahnya bukan karena kita terlalu banyak melakukan hal. Masalahnya karena kita tidak pernah benar-benar mulai. Kita langsung berlari tanpa memberi diri kesempatan hadir. Tubuh sudah bergerak, tapi pikiran masih tertinggal. Hati bahkan belum ikut bangun.

Akibatnya, sepanjang hari terasa seperti mengejar sesuatu yang tidak jelas. Bukan produktif, hanya reaktif. Kita terbiasa mengira bahwa cepat itu baik, bahwa semakin pagi kita sibuk, semakin besar peluang kita berhasil. Padahal, hari yang baik bukan ditentukan oleh seberapa cepat kita bergerak, melainkan seberapa sadar kita menjalaninya.

Memulai dengan tenang bukan berarti malas, justru itu cara memberi arah sebelum melangkah. Karena tanpa arah, secepat apa pun kita bergerak tetap terasa melelahkan.

Coba bayangkan kalau pagi dimulai dengan berbeda, bukan langsung melihat layar, bukan langsung memikirkan kerjaan, bukan langsung membandingkan diri dengan dunia luar.

Tapi hanya duduk sebentar, menarik napas yang benar-benar terasa, menyadari bahwa hari ini belum terjadi apa-apa, dan itu tidak apa-apa. Itu bukan membuang waktu, itu sedang memberi fondasi.

Kita sering terlalu fokus “mengisi hari” sampai lupa “memasuki hari”, padahal seperti memasuki rumah, hari juga butuh diketuk pelan, bukan diterobos terburu-buru. Saat kita memberi beberapa menit untuk benar-benar mulai, pikiran menjadi lebih jernih, langkah terasa lebih ringan. Dan anehnya, justru kita bisa melakukan lebih banyak tanpa merasa dikejar.

Tidak perlu ritual panjang, tidak perlu perubahan besar, cukup bangun, duduk sebentar, jangan langsung membuka apa pun. Biarkan diri sadar dulu bahwa kita ada di hari yang baru. Sesederhana itu tapi sering kali justru itu yang hilang.

Kita tidak harus berlari sejak bangun.

Hari bukan sesuatu yang harus dikejar. Hari adalah sesuatu yang bisa kita masuki, pelan-pelan. Dan mungkin, dengan mulai seperti itu, kita tidak hanya menjalani hari, kita benar-benar hidup di dalamnya.

Post a Comment

Previous Post Next Post