CoA - Sering kali kita merasa menjalankan agama itu berat. Banyak aturan, banyak kewajiban, banyak yang harus dijaga. Kadang muncul perasaan lelah duluan sebelum benar-benar melangkah. Lalu tanpa sadar kita menyimpulkan, 'Agama memang sulit dijalani.'
Padahal, yang terasa berat belum tentu datang dari ajarannya. Bisa jadi, kita sendiri yang menambah beban itu.
Islam sebenarnya hadir dengan prinsip kemudahan. Ia memahami bahwa manusia punya batas. Kita bisa lelah, bisa lupa, bisa salah, bahkan bisa jatuh berkali-kali. Karena itu, Islam tidak menuntut kesempurnaan, melainkan usaha yang terus diperbaiki.
Namun dalam prakteknya, kita sering membuat standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri. Baru mulai belajar, sudah ingin langsung bisa semuanya. Baru memperbaiki satu hal, sudah merasa harus berubah total. Ketika tidak sanggup, kita kecewa. Ketika gagal, kita merasa tidak pantas. Dari situlah agama terasa berat.
Padahal perjalanan Iman bukan tentang melompat jauh, tapi melangkah pelan.
Kita juga kadang membandingkan diri dengan orang lain. Melihat mereka yang tampak lebih baik, lebih rajin, lebih tahu banyak hal. Lalu kita merasa tertinggal dan akhirnya menyerah sebelum benar-benar mencoba. Padahal setiap orang punya waktunya masing2, punya proses yang berbeda.
Islam tidak pernah meminta kita menjadi seperti orang lain. Islam hanya meminta kita menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin.
Hal lain yang sering membuat terasa berat adalah ketika kita fokus pada rasa takut, tapi lupa pada harapan. Kita terlalu sibuk memikirkan kesalahan, sampai lupa bahwa selalu ada pintu untuk kembali. Dalam dunia bisnis mungkin terkenal istilah 'kesempatan tidak datang dua kali'. Tapi dalam Islam, kesempatan itu datang berkali-kali. Kita terlalu keras menilai diri sendiri, padahal agama justru mengajarkan kelembutan dalam memperbaiki.
Agama bukan untuk membuat manusia putus asa. Agama justru hadir agar manusia punya arah ketika lelah, punya pegangan ketika bingung, dan punya harapan ketika merasa gagal.
Jika hari ini terasa berat, mungkin yang perlu kita ubah bukan ajarannya, tapi cara kita menjalaninya. Tidak harus langsung banyak. Tidak harus langsung sempurna. Cukup satu langkah kecil, tapi dilakukan dengan tulus.
Karena Islam tidak dimaksudkan menjadi beban di pundak, melainkan cahaya di perjalanan. Dan cahaya itu tidak pernah menyuruh kita berlari, ia hanya menerangi, agar kita bisa terus berjalan, setenang dan semampu yang kita bisa.
