CoA - Pagi hari sering terasa seperti tombol “langsung hidup”. Alarm berbunyi, mata terbuka, lalu kita segera bangun, berjalan, mandi, atau bahkan langsung bekerja. Semua serba cepat. Padahal tubuh kita baru saja melewati berjam-jam dalam keadaan diam.
Tubuh tidak selalu siap untuk langsung bergerak. Ia butuh diberi tahu pelan-pelan bahwa hari sudah dimulai.
Di sinilah peregangan pagi menjadi penting. Bukan untuk olahraga. Bukan untuk menjadi lebih kuat. Tapi untuk membantu tubuh berpindah dari keadaan istirahat ke keadaan aktif tanpa merasa “kaget”.
Lima menit saja cukup.
Saat kita meregangkan tangan ke atas, memutar bahu, atau menundukkan kepala perlahan, otot-otot yang semalaman diam mulai terbangun. Aliran darah menjadi lebih lancar. Sendi yang kaku mulai terasa longgar. Napas yang tadinya pendek karena masih mengantuk, perlahan menjadi lebih dalam dan teratur.
Peregangan pagi bukan soal gerakan yang benar atau salah. Ini bukan tentang teknik yang sempurna. Ini tentang memberi waktu pada tubuh untuk menyusul kesadaran kita yang sudah lebih dulu bangun.
Sering kali rasa pegal, lelah, atau tidak nyaman di pagi hari bukan karena kita kurang tidur, tetapi karena kita langsung bergerak tanpa transisi.
Dengan peregangan ringan, tubuh diberi kesempatan untuk “menyala” secara bertahap. Seperti mesin yang dipanaskan dulu sebelum digunakan. Tidak terburu-buru, tidak dipaksa.
Menariknya, lima menit yang terasa kecil itu justru membuat aktivitas setelahnya terasa lebih ringan. Duduk lebih nyaman. Berdiri tidak terasa berat. Bahkan pikiran terasa lebih siap menjalani hari.
Kesehatan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Kadang, ia hadir dari kebiasaan kecil yang kita lakukan sebelum dunia mulai sibuk.
Jadi besok pagi, sebelum menyentuh ponsel, sebelum berlari ke kamar mandi, coba berhenti sejenak. Tarik napas. Regangkan tubuh perlahan.
Lima menit saja.
Cukup untuk membuat tubuh merasa diajak, bukan dipaksa.
