CoA - Bagi banyak pekerja kantoran, polanya hampir selalu sama. Selesai makan, kembali ke meja kerja, duduk di depan komputer, kemudian baru berdiri satu atau dua jam kemudian. Di rumah pun tidak jauh berbeda. Setelah makan malam, kita pindah dari meja makan ke sofa untuk menonton televisi atau bermain ponsel. Padahal ada kebiasaan sederhana yang menarik untuk dicoba: berjalan ringan setelah makan.
Ini bukan tentang membakar seluruh kalori dari makanan yang baru saja dikonsumsi. Mekanismenya lebih menarik daripada itu, karena berkaitan dengan bagaimana otot menggunakan glukosa.
Apa yang terjadi dengan gula darah setelah kita makan?
Ketika kita mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, misalnya nasi, roti, mi, kentang atau makanan manis, sistem pencernaan akan memecah sebagian karbohidrat tersebut menjadi glukosa. Glukosa kemudian masuk ke aliran darah.
Sebagai respons, pankreas melepaskan insulin. Salah satu tugas insulin adalah membantu glukosa berpindah dari darah ke dalam sel sehingga dapat digunakan sebagai energi atau disimpan untuk digunakan kemudian. Karena proses inilah kadar glukosa darah biasanya meningkat setelah makan dan kemudian turun kembali.
Pada orang sehat, tubuh mempunyai sistem pengaturan yang sangat efektif. Namun pola makan, aktivitas fisik, sensitivitas insulin, komposisi makanan, usia, kondisi kesehatan dan berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi besarnya perubahan tersebut. Di sinilah aktivitas fisik menjadi menarik.
Otot merupakan pengguna glukosa yang besar
Ketika kita berjalan, otot kaki mulai berkontraksi. Otot membutuhkan energi untuk mempertahankan kontraksi tersebut. Salah satu bahan bakar yang dapat digunakan adalah glukosa. Dengan kata lain, setelah kita makan dan glukosa mulai masuk ke darah, aktivitas otot memberikan tempat tambahan bagi tubuh untuk menggunakan energi tersebut.
Penelitian pada manusia telah menunjukkan bahwa aktivitas ringan hingga sedang yang dilakukan setelah makan dapat membantu mengurangi paparan glukosa setelah makan dibandingkan hanya duduk. Sebuah studi eksperimental, misalnya, menemukan bahwa berjalan dan latihan menggunakan berat badan sendiri segera setelah sarapan memperbaiki beberapa ukuran glukosa setelah makan.
Tidak perlu langsung berjalan 30 menit
Inilah bagian yang membuat kebiasaan ini cukup mudah diterapkan. Bayangkan setelah makan siang di kantor. Daripada selesai makan kemudian langsung kembali duduk, kita bisa berjalan mengelilingi area kantor selama beberapa menit. Bisa juga berjalan ke tempat yang sedikit lebih jauh untuk mengambil air minum.
Setelah makan malam, kita dapat berjalan santai di sekitar rumah. Tidak harus berlari. Tidak perlu sampai berkeringat deras. Bahkan tujuan utamanya bukan mengejar jumlah kalori tertentu, melainkan memasukkan aktivitas fisik ke bagian hari yang biasanya sepenuhnya sedentari.
Tetapi jangan menganggapnya sebagai “penawar” makanan
Ada kesalahpahaman yang perlu dihindari. Jangan sampai muncul pemikiran:
"Tidak apa-apa makan sebanyak mungkin, nanti tinggal jalan kaki."
Tubuh tidak bekerja sesederhana persamaan tersebut. Kualitas makanan, jumlah kalori, serat, protein, lemak, jenis karbohidrat, aktivitas fisik keseluruhan, tidur dan berbagai faktor lain tetap penting.
Jalan kaki setelah makan sebaiknya dianggap sebagai tambahan kebiasaan sehat, bukan kompensasi untuk pola makan yang tidak seimbang. Begitu pula seseorang yang sudah berjalan setelah makan tetap membutuhkan aktivitas fisik secara keseluruhan.
