Mengubah Waktu Tunggu Jadi Waktu Pahala


CoA - Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak waktu yang kita anggap terbuang. Menunggu antrean, menunggu kendaraan datang, menunggu rapat dimulai, atau sekadar menunggu seseorang. Biasanya, waktu-waktu seperti itu terasa membosankan. Kita melihat jam berulang kali, membuka ponsel tanpa tujuan, lalu merasa kesal karena waktu berjalan lambat.

Padahal, dalam Islam tidak ada waktu yang benar-benar tersia-siakan jika kita tahu bagaimana mengisinya.

Waktu tunggu sebenarnya adalah ruang kosong yang bisa kita isi dengan kebaikan kecil. Tidak perlu sesuatu yang besar atau terlihat istimewa. Cukup dengan mengingat ALLAH dalam hati, mengucap Dzikir pelan, atau menarik napas sejenak sambil mensyukuri apa yang kita miliki hari ini.

Hal-hal sederhana itu mungkin hanya berlangsung satu atau dua menit, tetapi nilainya bisa jauh lebih berarti daripada waktu yang berlalu tanpa arah.

Sering kali kita berpikir bahwa ibadah harus dilakukan dalam kondisi khusus, tempat yang tenang, waktu yang lapang, atau suasana yang mendukung. Padahal justru di sela-sela kesibukan itulah kita diberi kesempatan untuk tetap terhubung dengan ALLAH. Waktu tunggu menjadi pengingat bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri dalam menjalani hari.

Selain bernilai pahala, momen seperti itu juga menenangkan hati. Daripada merasa gelisah karena harus menunggu, kita belajar menerima keadaan dengan lebih sabar. Kita berhenti tergesa-gesa, berhenti mengeluh, dan mulai menikmati jeda yang sebelumnya terasa mengganggu.

Dari situ kita menyadari bahwa hidup tidak selalu harus penuh dengan aktivitas. Ada saatnya kita berhenti, bukan karena tidak ada yang dikerjakan, tetapi karena kita sedang diberi kesempatan untuk memperbaiki niat dan menguatkan hati.

Mengubah waktu tunggu menjadi waktu pahala bukanlah sesuatu yang sulit. Ia hanya membutuhkan kesadaran kecil, bahwa setiap detik bisa bernilai jika kita mengisinya dengan kebaikan.

Maka lain kali ketika kita harus menunggu, tidak perlu merasa waktu sedang terbuang. Bisa jadi, justru di saat itulah kita sedang diberi peluang untuk mengumpulkan kebaikan dengan cara yang paling sederhana, diam, sadar, dan mengingat-Nya di tengah kesibukan hidup.

Post a Comment

Previous Post Next Post