CoA - Hampir semua orang pernah mengalami momen ini: pekerjaan penting sudah ada di depan mata, tapi justru kita memilih melakukan hal lain yang lebih ringan. Bukan karena kita malas, melainkan karena otak manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk menunda.
Secara biologis, otak selalu berusaha menghemat energi. Setiap tugas yang terasa sulit, baru, atau menuntut fokus tinggi akan dibaca sebagai ancaman kecil oleh otak. Ancaman ini bukan bahaya fisik, melainkan ketidaknyamanan mental. Akibatnya, otak mendorong kita mencari aktivitas yang terasa lebih aman dan menyenangkan, seperti membuka ponsel, menonton video singkat, atau sekadar menunda dengan alasan “nanti saja”.
Masalahnya, otak lebih memprioritaskan kenikmatan jangka pendek dibanding manfaat jangka panjang. Bagian otak yang mengatur logika dan perencanaan memang tahu bahwa menyelesaikan tugas itu penting, tetapi bagian emosional yang menginginkan rasa nyaman sering kali lebih dominan. Inilah sebabnya kita bisa sangat rasional di malam hari saat merencanakan besok, lalu menjadi sangat kompromistis keesokan paginya.
Menariknya, menunda bukan berarti otak berhenti bekerja. Saat kita menunda, otak justru sibuk mencari pembenaran. Kita merasa “belum siap”, “butuh mood yang pas”, atau “lebih baik nanti biar hasilnya maksimal”. Semua ini adalah cara otak melindungi diri dari tekanan mental yang dirasakannya.
Namun ada satu hal penting: semakin sering menunda, semakin kuat jalur kebiasaan itu terbentuk di otak. Menunda menjadi respons otomatis, bukan lagi keputusan sadar. Sebaliknya, ketika kita memulai meski hanya sedikit, otak perlahan belajar bahwa tugas tersebut tidak seseram yang dibayangkan.
Itulah sebabnya langkah kecil sangat efektif melawan kebiasaan menunda. Memulai selama dua menit sering kali cukup untuk menurunkan resistensi otak. Setelah itu, tindakan terasa lebih ringan, dan otak mulai beralih dari mode menghindar ke mode menyelesaikan.
Pada akhirnya, menunda bukan musuh yang harus dilawan dengan keras. Ia adalah sinyal dari otak bahwa kita sedang merasa terbebani. Dengan memahami cara kerja otak, kita bisa merespons sinyal itu dengan strategi yang lebih cerdas, bukan dengan rasa bersalah yang berlebihan.
