CoA - Ada kalanya tubuh terasa baik-baik saja, tetapi pikiran justru terasa sangat lelah. Tidak ada aktivitas fisik berat, tidak juga kurang tidur secara ekstrem, namun kepala terasa penuh, sulit fokus, dan mudah terdistraksi. Kondisi ini sering disebut sebagai kelelahan mental, dan penyebabnya sering kali tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari.
Otak adalah organ yang bekerja tanpa henti. Bahkan saat tubuh sedang diam, otak tetap aktif memproses informasi, emosi, dan keputusan kecil yang tampak sepele. Setiap notifikasi, pilihan, percakapan, dan pikiran yang muncul membutuhkan energi mental. Semakin banyak keputusan yang harus diambil, semakin besar beban kerja otak.
Salah satu penyebab utama kelelahan mental adalah paparan informasi yang terus-menerus. Di era digital, otak dipaksa berpindah fokus dengan sangat cepat. Membuka ponsel, membaca pesan, melihat berita, lalu kembali bekerja membuat otak jarang berada dalam kondisi fokus yang utuh. Pergantian fokus yang berulang ini menguras energi lebih besar dibandingkan fokus pada satu hal dalam waktu lama.
Selain itu, kelelahan mental juga sering muncul akibat stres ringan yang berlangsung terus-menerus. Stres tidak selalu berupa tekanan besar. Deadline kecil, kekhawatiran yang dipendam, dan rasa harus selalu siap merespons membuat otak berada dalam mode siaga berkepanjangan. Dalam kondisi ini, otak sulit benar-benar beristirahat meskipun tubuh tampak tidak melakukan apa-apa.
Kurangnya jeda juga menjadi faktor penting. Banyak orang merasa sudah beristirahat hanya karena berhenti bekerja, padahal pikirannya masih dipenuhi oleh hal yang sama. Menonton layar lain, menggulir media sosial, atau berpindah aplikasi sebenarnya tidak memberi istirahat bagi otak. Aktivitas tersebut justru menambah rangsangan baru yang harus diproses.
Menariknya, kelelahan mental sering disalahartikan sebagai rasa malas. Padahal, ketika otak kelelahan, kemampuan untuk memulai dan menyelesaikan tugas memang menurun. Motivasi melemah bukan karena kurang niat, tetapi karena kapasitas mental sedang menipis.
Otak membutuhkan jenis istirahat yang berbeda dari tubuh. Bukan hanya tidur, tetapi juga waktu tanpa tuntutan, tanpa keputusan, dan tanpa arus informasi. Aktivitas sederhana seperti berjalan tanpa tujuan, diam sejenak tanpa layar, atau melakukan satu hal dengan penuh perhatian dapat membantu memulihkan energi mental secara perlahan.
Kelelahan mental adalah sinyal, bukan kelemahan. Ia menandakan bahwa otak telah bekerja keras dan membutuhkan ruang untuk bernapas. Dengan mengenali tanda-tandanya lebih awal, kita bisa belajar memperlakukan pikiran dengan perhatian yang sama seperti tubuh.
