CoA - Kita mungkin pernah menemukan QR Code yang permukaannya tergores, terkena noda, terlipat, atau sebagian gambarnya tertutup oleh logo. Anehnya, kamera ponsel terkadang masih dapat membacanya dengan baik. Padahal, jika diperhatikan, beberapa kotak hitam dan putih di dalam QR Code tersebut sudah tidak terlihat secara utuh.
Kemampuan ini bukanlah suatu kebetulan. QR Code memang dirancang agar tetap dapat menyampaikan informasi meskipun sebagian komponennya hilang atau mengalami kerusakan.
QR Code tidak hanya menyimpan data asli seperti alamat situs, nomor pembayaran, identitas produk, atau informasi lainnya. Di dalam pola kotak-kotak tersebut juga dimasukkan data tambahan yang berfungsi sebagai cadangan matematis. Sistem ini disebut error correction atau koreksi kesalahan.
Teknologi koreksi kesalahan yang digunakan dalam QR Code dikenal sebagai Reed–Solomon Code. Secara sederhana, sistem ini menambahkan sejumlah informasi cadangan yang dapat digunakan untuk memperkirakan dan menyusun kembali data yang hilang.
Bayangkan kita mempunyai sebuah kalimat:
“TEKNOLOGI MEMUDAHKAN KEHIDUPAN”
Kemudian sebagian hurufnya hilang dan hanya tersisa:
“TE_NOLOGI MEMUDA_KAN KEHID_PAN”
Walaupun ada beberapa huruf yang hilang, manusia masih dapat menebak isi kalimatnya karena memahami pola bahasa. Reed–Solomon bekerja dengan prinsip yang kurang lebih serupa, tetapi menggunakan perhitungan matematika yang jauh lebih sistematis. Pemindai tidak benar-benar “menebak” secara sembarangan. Ia menghitung kembali data berdasarkan kode koreksi yang sudah ditanamkan ketika QR Code dibuat.
Menurut dokumentasi DENSO WAVE, perusahaan yang mengembangkan QR Code, tersedia empat tingkat koreksi kesalahan:
- Level L dapat memulihkan sekitar 7% codeword.
- Level M dapat memulihkan sekitar 15% codeword.
- Level Q dapat memulihkan sekitar 25% codeword.
- Level H dapat memulihkan sekitar 30% codeword.
Istilah codeword di sini tidak sama persis dengan persentase luas gambar yang boleh ditutup. Satu codeword merupakan unit data digital yang menyusun area informasi QR Code. Oleh karena itu, Level H tidak berarti kita bebas menutup 30% permukaan QR Code pada bagian mana pun.
Lokasi kerusakan tetap sangat menentukan. Jika bagian yang tertutup adalah tiga kotak besar di sudut QR Code, kemampuan pemindaian dapat terganggu secara serius. Ketiga pola tersebut disebut finder patterns dan digunakan kamera untuk menemukan posisi, ukuran, serta orientasi QR Code.
Inilah sebabnya QR Code tetap dapat dipindai meskipun posisinya miring atau ponsel tidak memotretnya secara lurus dari depan. Kamera menggunakan pola-pola khusus tersebut untuk mengenali bahwa gambar yang dilihatnya merupakan QR Code, lalu melakukan koreksi perspektif sebelum membaca data di dalamnya.
Kemampuan memperbaiki informasi yang hilang juga menjelaskan mengapa beberapa perusahaan dapat menempatkan logo di tengah QR Code. Logo tersebut memang menutupi sebagian data, tetapi selama tingkat koreksi kesalahannya mencukupi dan bagian-bagian penting tidak terganggu, pemindai masih dapat memulihkan informasi yang tertutup.
Namun, memasang logo pada QR Code tidak boleh dilakukan sembarangan. Semakin besar logo, semakin banyak informasi yang tertutup. QR Code juga harus memiliki kontras yang cukup jelas serta area kosong di sekelilingnya. Area kosong tersebut dikenal sebagai quiet zone dan membantu kamera membedakan QR Code dari tulisan, gambar, atau pola lain di sekitarnya.
Contoh praktis dalam kehidupan sehari-hari
Bayangkan sebuah perusahaan menempelkan QR Code pada kotak barang di gudang. Label tersebut mungkin terkena debu, minyak, air, atau goresan selama proses penyimpanan dan pengiriman.
Jika QR Code dibuat menggunakan Level L, kapasitas datanya relatif lebih besar, tetapi kemampuannya menghadapi kerusakan lebih rendah. Untuk lingkungan gudang atau pabrik, Level Q atau H dapat menjadi pilihan yang lebih aman karena menyediakan kemampuan koreksi lebih tinggi.
Konsekuensinya, semakin tinggi tingkat koreksi, semakin banyak ruang yang digunakan untuk menyimpan data cadangan. QR Code dapat menjadi lebih padat atau lebih besar untuk menampung informasi yang sama. Jadi, terdapat pertukaran antara kapasitas data, ukuran, dan ketahanan terhadap kerusakan.
Sebelum QR Code dicetak dalam jumlah besar, sebaiknya lakukan pengujian menggunakan beberapa merek ponsel, ukuran cetak, jarak pemindaian, serta kondisi pencahayaan yang berbeda. QR Code yang dapat dibaca dari layar komputer belum tentu tetap mudah dipindai setelah dicetak dalam ukuran kecil.
QR Code menunjukkan bahwa data digital tidak selalu harus disimpan secara sempurna untuk dapat digunakan. Dengan menambahkan redundansi yang dirancang secara matematis, sebuah sistem dapat mengenali kesalahan dan memulihkan sebagian informasi yang hilang. Prinsip serupa juga digunakan dalam komunikasi satelit, penyimpanan digital, CD, DVD, dan berbagai sistem transmisi data.
Apa Itu Internet? Pengertian, Sejarah, Cara Kerja, dan Mengapa Internet Mengubah Dunia