CoA - Di hari-hari biasa, pikiran kita jarang benar-benar berhenti. Sejak bangun tidur, sudah ada daftar yang harus dipikirkan, pekerjaan, pesan yang belum dibalas, rencana yang belum selesai, kekhawatiran yang bahkan belum tentu terjadi. Tanpa sadar, kepala kita dipenuhi banyak hal sekaligus, seperti mesin yang terus berjalan tanpa pernah dimatikan.
Puasa datang seperti tombol reset.
Saat kita Puasa, ritme hidup melambat. Tidak ada jeda makan siang yang ramai, tidak ada keinginan untuk terus mengisi waktu dengan sesuatu. Tubuh yang menahan membuat kita mau tidak mau ikut menahan, termasuk menahan pikiran yang biasanya berlarian ke mana-mana.
Di tengah rasa lapar dan sunyi, kita mulai menyadari betapa lelahnya pikiran yang selalu dipacu. Puasa memberi ruang untuk bernapas lebih dalam, menjalani aktivitas dengan lebih sadar, dan tidak terus-menerus bereaksi terhadap semua hal. Kita belajar memilih mana yang penting, mana yang bisa dilepaskan.
Seperti perangkat yang dimatikan sejenak agar kembali optimal, puasa membantu membersihkan 'keramaian' di dalam kepala. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi ringan, tetapi karena kita tidak lagi membawa semuanya sekaligus.
Ketika berbuka tiba, yang terasa bukan hanya energi yang kembali, melainkan juga pikiran yang lebih jernih. Puasa mengingatkan bahwa manusia tidak diciptakan untuk terus berlari. Kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak agar bisa kembali melangkah dengan lebih tenang.
.png)