CoA - Banyak orang merasa bangga ketika bisa melakukan banyak hal sekaligus. Membalas pesan sambil bekerja, membuka beberapa tab sekaligus, mendengarkan sesuatu sambil mencoba fokus membaca. Sekilas terlihat produktif. Seolah waktu dimanfaatkan sepenuhnya. Padahal, otak kita tidak benar-benar bekerja secara bersamaan. Yang terjadi justru sebaliknya, otak terus-menerus berpindah.
Setiap kali kita berpindah dari satu tugas ke tugas lain, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Proses ini disebut task switching, dan meskipun berlangsung sangat cepat, ia menguras energi mental. Ibarat berjalan maju, lalu setiap beberapa langkah kita dipaksa berhenti, berbalik, dan mulai lagi. Kita tetap bergerak, tetapi jauh lebih lambat dan lebih melelahkan.
Masalahnya, perpindahan ini tidak terasa. Kita merasa tetap bekerja, padahal kualitas perhatian kita terpecah. Saat membaca sambil mengecek notifikasi, kita tidak benar-benar memahami bacaan. Saat bekerja sambil membuka media sosial, otak tidak pernah masuk ke kondisi fokus mendalam. Hasilnya, pekerjaan menjadi lebih lama selesai, lebih mudah salah, dan sering terasa tidak maksimal meskipun sudah menghabiskan banyak waktu.
Otak manusia dirancang untuk fokus pada satu hal penting dalam satu waktu. Ketika kita memberi ruang untuk fokus penuh, otak mulai membangun koneksi yang lebih kuat, memahami lebih dalam, dan bekerja lebih efisien. Di sinilah kualitas berpikir terbentuk. Bukan dari banyaknya hal yang dikerjakan, tetapi dari kedalaman perhatian yang diberikan.
Multitasking juga membuat kita cepat lelah tanpa sadar. Karena otak terus berpindah konteks, energi terkuras bukan untuk menyelesaikan tugas, melainkan untuk beradaptasi ulang. Inilah sebabnya kita bisa merasa capek padahal merasa 'tidak melakukan apa-apa'. Bukan pekerjaannya yang berat, tetapi cara kita melakukannya yang membuat otak bekerja dua kali.
Sebaliknya, ketika kita mengerjakan satu hal hingga selesai, otak masuk ke ritme yang stabil. Pikiran menjadi lebih tenang, keputusan lebih jelas, dan waktu terasa berjalan lebih efisien. Fokus tunggal memberi kesempatan bagi otak untuk bekerja sebagaimana mestinya, menyelesaikan, bukan sekadar berpindah.
Produktivitas sejati bukan tentang melakukan banyak hal sekaligus. Produktivitas adalah tentang hadir sepenuhnya pada satu hal yang sedang kita kerjakan. Saat kita berhenti mencoba melakukan semuanya dalam satu waktu, justru di situlah kualitas berpikir mulai meningkat, dan pekerjaan terasa lebih ringan sekaligus lebih bermakna.