CoA - Pernahkah Anda tiba di suatu tempat tanpa benar-benar ingat perjalanan ke sana? Atau menyelesaikan rutinitas pagi seperti mandi, berpakaian, sarapan tanpa satu pun momen terasa jelas di ingatan? Tahu-tahu hari sudah berjalan setengah, tetapi rasanya seperti belum benar-benar 'hadir'.
Itulah yang sering disebut sebagai autopilot mode, yaitu keadaan ketika kita menjalani aktivitas secara otomatis, tanpa kesadaran penuh.
Otak manusia memang dirancang untuk membuat banyak hal berjalan otomatis. Tanpa kemampuan ini, kita akan kelelahan hanya untuk memikirkan hal-hal kecil seperti mengikat sepatu atau membuka pintu. Autopilot membantu kita bertahan, bekerja cepat, dan menghemat energi mental. Dalam kadar tertentu, ia sangat berguna.
Namun masalah muncul ketika terlalu banyak bagian hidup dijalani dengan cara yang sama, otomatis, berulang, tanpa perhatian.
Hari-hari terasa mirip satu sama lain. Kita bangun, bekerja, melihat layar, pulang, beristirahat, lalu mengulang lagi. Tidak ada yang salah, secara teknis semua berjalan. Tetapi ada perasaan samar bahwa waktu berlalu begitu saja, tanpa benar-benar kita alami.
Autopilot membuat kita hadir secara fisik, tetapi tidak secara mental.
Ketika hidup terlalu lama berada di mode ini, kita menjadi kurang peka terhadap apa yang kita rasakan. Kita makan tanpa menikmati rasa. Mendengar tanpa benar-benar mendengarkan. Berbicara tanpa benar-benar memahami maksud sendiri. Bahkan emosi pun sering lewat begitu saja tanpa sempat dikenali.
Akibatnya, banyak orang merasa kosong bukan karena hidupnya tidak berarti, tetapi karena jarang benar-benar mengalami hidup itu sendiri.
Kesadaran atau being present adalah kebalikan dari autopilot. Ini bukan berarti kita harus memperhatikan setiap detik secara intens, melainkan memberi ruang untuk benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi. Menyadari napas yang masuk dan keluar. Menyadari langkah saat berjalan. Menyadari perasaan yang muncul tanpa langsung menolaknya.
Hal-hal sederhana seperti itu tampak kecil, tetapi justru di sanalah kehidupan terasa kembali 'hidup'.
Keluar dari autopilot tidak harus dilakukan dengan perubahan besar. Kadang cukup dengan memperlambat satu momen dalam sehari. Minum teh tanpa membuka ponsel. Menatap langit beberapa menit. Mendengarkan seseorang tanpa memikirkan jawaban. Memberi perhatian penuh pada satu aktivitas, bukan banyak sekaligus.
Latihan kecil ini seperti menyalakan kembali lampu kesadaran yang sempat redup.
Menariknya, ketika kita mulai lebih sadar, waktu justru terasa lebih luas. Hari tidak lagi terasa hilang begitu saja. Kita mulai mengingat detail-detail kecil, merasakan emosi dengan lebih jernih, dan menemukan makna di hal-hal yang sebelumnya tampak biasa.
Hidup sebenarnya tidak pernah berhenti terjadi. Kitalah yang kadang berjalan terlalu cepat hingga tidak sempat menyadarinya.
Maka sesekali, berhentilah sejenak. Tarik napas. Perhatikan sekitar. Bukan untuk menjadi lebih produktif, tetapi untuk kembali hadir.
Karena hidup bukan hanya tentang menjalani, melainkan tentang mengalami.
