CoA - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering hidup dalam mode reaksi. Ada sesuatu yang tidak sesuai harapan, kita langsung kesal. Ada perkataan yang kurang menyenangkan, kita segera membalas. Banyak hal terjadi begitu cepat, tanpa sempat dipikirkan. Seolah-olah hidup berjalan seperti rangkaian tombol yang terus ditekan, tanpa jeda untuk memahami apa yang sebenarnya kita rasakan.
Puasa datang mengubah pola itu.
Saat Puasa, tubuh tidak berada dalam kondisi paling nyaman. Ada lapar, ada haus, ada kelelahan yang membuat kita tidak bisa bergerak secepat biasanya. Justru di situlah muncul ruang yang selama ini jarang ada, ruang untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi. Kita belajar menahan, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari dorongan untuk langsung menanggapi segala sesuatu.
Puasa mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dibalas dengan emosi. Tidak semua situasi membutuhkan respon yang cepat. Kadang, yang kita perlukan hanyalah mengambil nafas, memberi jarak, lalu melihat dengan lebih jernih.
Dari latihan sederhana ini, kita mulai mengenal diri sendiri dengan cara yang berbeda. Kita menyadari pola-pola yang sebelumnya tidak terlihat seperti mudah tersinggung, terburu-buru mengambil kesimpulan, atau terlalu cepat merasa terganggu. Kesadaran itu tidak datang karena kita dipaksa berpikir keras, tetapi karena Puasa membuat kita berjalan lebih pelan.
Ketika reaksi berkurang, refleksi bertambah.
Kita punya waktu untuk bertanya pada diri sendiri:
Apakah ini penting?
Apakah ini perlu dipermasalahkan?
Apakah respon saya akan memperbaiki keadaan, atau justru memperkeruh?
Puasa, dengan segala kesederhanaannya, menjadi latihan mengelola diri. Ia melatih kita untuk tidak selalu mengikuti dorongan pertama, tetapi memberi kesempatan pada kebijaksanaan untuk muncul lebih dulu. Dari situ, sikap menjadi lebih tenang, kata-kata lebih terjaga, dan keputusan terasa lebih matang.
Mungkin inilah salah satu hadiah terbesar dari Puasa, bukan hanya tubuh yang belajar menahan, tetapi hati dan pikiran yang belajar memahami. Kita tidak lagi sekadar bereaksi terhadap hidup, melainkan mulai menjalaninya dengan kesadaran.
Dan ketika kebiasaan ini terbawa setelah Puasa berakhir, kita menyadari bahwa ketenangan bukan datang dari dunia yang berubah, melainkan dari cara kita meresponsnya.
